Rabu, 07 November 2012

Adam Smith : Bapak Pendiri Ilmu Ekonomi


“Untuk maksud apakah semua kerja keras dan kesibukan di dunia ini? Apakah tujuan dari keserakahan dan ambisi, dari pengejaran kemakmuran, dari kekuasaan,dan keunggulan?” Demikian tulis Adam Smith (1723-1790) dari Scotland, yang sepintas lalu mengamati dunia sosial dari ilmu ekonomi persis seperti yang dilakukan Isaac Newton terhadap dunia fisika dari cakrawala. Smith menjawab pertanyaan-pertanyaannya dalam The Wealth of Nations (1176), dimana dia menjelaskan tatanan alami yang mengatur dirinya sendiri seperti halnya sebuah oli yangmelumasi sebuah mesin ekonomi secara menakjubkan. Smith yakin bahwa kerja keras dan kesibukan berpengaruh pada kebaikan nasib setiap manusia kebanyakan. “Konsumsi adalah tujuan dan maksud satu-satunya dari seluruh produksi.”
Smith adalah rasul pertama pertumbuhan ekonomi. Pada permulaan Revolusi Industri, dia menunjuk kemajuan-kemajuan pesat dalam produktivitas yang ditimbulkan oleh spesialisasi dan pembagian kerja. Dalam sebuah contoh yang termasyhur, dia menggambarkan spesialisasi manufaktur sebuah pabrik peniti. Satu orang mengulurkan kawat, yang lain meluruskannya, dan orang ketiga memotongnya dan oleh karena itu pabrik itu berjalan. Cara kerja seperti ini memungkinkan 10 orang membuat 48.000 peniti dalam sehari, sebaliknya jikalau semua orang membuatnya sendiri-sendiri, mereka masing-masing tidak dapat menghasilkan dua puluh, barangkali hanya menghasilkan satu peniti sehari. Smith melihat hasil dari pembagian kerja ini sebagai kekayaan universal yang merembet sendiri ke jenjang-jenjang orang yang paling rendah. Bayangkan apa yang akan dia pikirkan seandainya dia kembali lagi saat ini untuk melihat apa yang dihasilkan dua abad lebih pertumbuhan ekonomi.
Smith menuliskan ratusan halaman yang mencerca kasus-kasus yang tak terbilang dari ketololan dan campur tangan pemerintah. Tengoklah pemimpin seerikat kerja abad ke tujuh belas yang sedang meningkatkan kerajinan tenunnya. Serikat kerja kota memutuskan jikalau penenun pakaian bermaksud untuk memroses sepotong pakaian sesuai dengan temuannya sendiri, dia harus memperoleh izin dari hakim-hakim kota untuk menggunakan jumlah dan panjangnya benang yang diinginkannya setelah persoalan itu dipertimbangkan oleh empat saudagar tertua dan empat penenun tertua dari serikat itu. Smith berpendapat bahwa pembatasan-pembatasan seperti itu (apakah yang diadakan oleh pemerintah atau oleh monopoli, apakah terhadap produksi atau terhadap perdagangan luar negeri) menghambat kerja yang sebenarnya dari sistem pasar dan pada akhirnya merugikan baik para pekerja maupun konsumen.
Tak satu pun dari ini meberi kesan bahwa Smith adalah pembela kemapanan. Dia tidak percaya terhadap seluruh kekuasaan yang dibentengi, monopoli swasta maupun monarki publik. Dia membela rakyat jelata. Namun, seperti banyak ekonom besar, dia telah belajar dari risetnya bahwa jalan menuju pemborosan ditabur dengan maksud-maksud yang baik.
Yang terpenting adalah pandangan Adam Smith tentang “tangan yang tak kentara” yang merupakan kontribusi abadinya terhadap ilmu ekonomi modern.